Living in a whole damn colorful word

What doesn't kill me makes me stronger.

  • 20th August
    2014
  • 20

Allah knows

when you do something for someone and they’re not grateful

when you get up to pray in the early hours of the morning while the rest of the world is asleep

when you hold your tongue instead of being rude or disrespectful

when you don’t argue with your parents even though you know you’re right

when you do the right thing when no-ones watching

when you make duaa for your enemies instead of hurting them with bad words

when you do the smallest of smallest of good deeds, so small even you’ve forgotten about it.. Allah knows.

And whoever does an atom’s weight of good will see it
(Qur’aan 99:7)

  • 17th August
    2014
  • 17
  • 15th August
    2014
  • 15
  • 7th August
    2014
  • 07
  • 5th August
    2014
  • 05
  • 5th May
    2014
  • 05
  • 3rd May
    2014
  • 03

Ibu Bekerja atau Ibu Rumah Tangga?

Sampai sekarang masih suka galau antara mau kerja kantoran atau nggak. Pertimbangannya sih lebih berat ke anak.

Tapi jujur aja, tiap liat postingan temen-temen perempuan yang ngantor, hal-hal yang terlintas di kepala adalah

'Enak ya punya uang sendiri buat beliin oleh-oleh anak pas pulang kerja'

atau

'Enak ya punya uang sendiri jadi nggak harus bergantung sama suami'

Tapi cuma sebatas itu aja kalau menyangkut uang. Di samping itu sih yang lebih banyak menyangkut anak. Contoh :

'Apa nggak kepikiran anaknya ya di rumah lagi ngapain?'

atau

'Nggak sedih ya nggak liat perkembangan anak, malah si mbaknya yang duluan yang liat kalau anaknya bisa merangkak, bisa jalan, nyanyi-nyanyi'

atau

'Nggak sayang ya nggak liat kelucuan anak?'

atau

'Kalau anaknya sakit gimana rasanya ya?'

atau

'Yakin nggak tuh si mbaknya ngurus dengan baik? Kita aja suka capek ngurus anak sendiri, kalau mbaknya yang cape nanti anaknya diapain dong sama mbaknya?'

Dan masih banyak lagi sih sebenernya, tapi capek keleus kalo tulis semua.

Intinya sih, semua itu pilihan. Mau pilih pekerjaan atau anak. Saya sih pilih anak karena udah tau gimana rasanya ngeliat kelucuan anak sepanjang hari. Yah meskipun punya usaha kecil-kecilan dan untungnya nggak seberapa, yang penting suami mendukung dan sangat membantu . Meskipun terkadang iri melihat temen-temen yang bekerja, tapi saya yakin bahwa pilihan saya untuk merawat anak saya sendiri juga mendatangkan rezeki sendiri.

Suatu waktu saya pernah bercerita pada suami

"Aku iri deh ngeliat temen-temen yang pada ngantor. Rasanya pengen balik ngantor lagi. Tapi kasian kakak, ntar kalo dia kangen Bundanya gimana?"

Lalu suami pun menjawab

"De, kamu tau nggak? Temen-temen kantor ayah justru iri sama kamu. Kamu diem di rumah ngurus anak, punya usaha kecil-kecilan, dapet gaji juga dari suami meskipun nggak seberapa, mereka malah pengen kayak kamu De. Jadi jangan iri sama orang lain, karena ternyata mereka yang iri sama kamu"

Alhamdulillah yah, suami saya meskipun sering konyol tapi terkadang bisa bijak juga :)

Jadi sejak saat itu perasaan iri yang muncul tiap liat ibu bekerja saya pendam, toh Alhamdulillah anak saya sehat, cerdas, dan tidak satupun kelucuannya yang saya lewatkan.

Karena saya merawat sendiri anak saya :)

  • 3rd May
    2014
  • 03
Aneh itu ketika seseorang minum wine tapi mengucap Alhamdulillah. I was like,”seriously?”
Jasmine, 25 tahun, bukan muslim yang sempurna tapi yang jelas nggak minum wine.
  • 2nd May
    2014
  • 02

Sepenggal kisah saya sebagai IBU

Hei, i’m a mother now. Rasanya lucu juga ya, baru kemarin masih urakan kesana-kemari sendirian. Lincah hahahihi sama temen-temen. Rasanya baru kemarin saya nongkrong di kamar mainin cafe world di facebook tiap pulang kampus. Rasanya baru kemarin saya menikmati sekoteng sambil ngobrol sama temen-temen di kampus. Sendirian ke mall, nongkrong di starbucks sampe sore menjelang kuliah baru capcussss!!

Sekarang? I’m 24/7 worker without being paid by money but love. Mendapat anugerah dari Allah, seorang putri yang lucunya ga tertahankan. Bahkan terkenal di lingkungan kantor ayahnya, jadi sekarang kalo ada yang manggil bukan,”Pak Helmy” tapi,”Papanya Nadia”

Awalnya baby blues sempet melanda. Merasa terkekang karena udah punya bayi. Bayi yang selalu nangis di malam hari. Bikin kesel, bete, sampe pernah marah sama Nadia yang ga tau apa-apa.

Sekarang? Rasanya aneh kalo kemana-mana ga sama Nadia. Siang tadi bahkan nyetir sendirian nyari makan siang buat tukang yang lagi benerin rumah. Nadia dititipin ke Neneknya. Ya ampun garing banget. Aneh aja gitu di car seat ga ada Nadia.

Dulu cuek banget, ngurus diri sendiri rajinnya bukan main. Facial, paddy-manny, nyalon, luluran, spa, sauna, akupunktur, fitness, dan super sebagainya. Badan langsing shingshet! Rambut beuuhh~ aluuusssss, kulit muluussss, hati tuluussss!!

Sekarang? Semua yang saya kerjain pasti buat Nadia dulu, lalu Ayahnya, baru saya. Bangun pagi bikinin Nadia sarapan, baru bekel ayahnya, sarapan buat saya nanti aja gampil. Nyalon? Terakhir sih 6 bulanan yang lalu lah, itu juga potong rambut bukan creambath atau hair spa. Luluran? Spa? Sauna? Facial? KANGEEENNN!!! Tapi niat mau melakuin itu semua selalu diurungkan. Alasan utama? Takut Nadia nyariin Ibunya. Maklum, anak ini tidur senyenyak apapun kalo ibunya keluar dari kamar aja langsung bangun. Elah padahal cuman mau pipis doang ke kamar mandi.

Sebagai orang yang doyan tidur, susaahhh banget untuk bangun pagi. Tidur malem, bangun siang. Siapa sih yang ga doyan? Kerjaannya main internet, baca komik atau novel, dengerin lagu.

Sekarang? Mastiin Nadia tidur nyenyak dulu baru bisa tidur. Kadang kalo Ayahnya juga ketiduran ya saya selimutin. Tapi disitulah indahnya, saya ga bisa tidur tapi ngeliatin suami dan anak tidur (yang mukanya sama persis) rasanya terharu.

Jazz, 23 Januari 2014, 22.52 PM

  • 11th April
    2014
  • 11